Rabu, 14 November 2012

Salah Kaprah, Silaturrahim bukan Silaturrahmi..

Assalamu'alaykum Warahmatullah Wabarakatuh..

Oleh : DR. Hidayat Nur Wahid

Umat Islam Indonesia adalah umat yang suka bersilaturrahim. Saling berkunjung, saling menyapa dan saling berkomunikasi. Tetapi, mengapa tetap saja selalu menghadirkan kebencian, kedengkian dan konflik, padahal silaturrahmi terus dijalin banyak pihak ?

Kalau boleh dikatakan penyakit, penyakit itu adalah seringkali keliru menggunakan istilah kata. Kita keliru menggunakan istilah silaturrahmi. Padalah, yang betul adalah silaturrahim.

Lantas, apa bedanya silaturrahmi dengan silaturrahim ?
padahal susunan hurufnya sama saja, cuma berbeda susunan di 3 huruf belakang :-/
Ya, betuk perbedaannya ada pada akhirnya yang ada pada huruf   م  (mim)

Pada dasarnya silaturrami berasal dari dua kata, "silah" dan "rahmi". Silah artinya menyambungkan.
Sedangkan Rahmi artinya rasa nyeri yang diderita para ibu ketika melahirkan. Hal ini tentu sangat berbeda rahmi yakni menyambung rasa kasih sayang dan pengertian.

Itu sebabnya kebencianm kedengkian dan konflik masih saja ada meski silaturrahmi terus terjalin. Sebab, yang kita sambung adalah rasa nyeri pada ibu kita ketika melahirkan tadi.

Ungkapan lain yang seringkali kita gunakan, dan ternyata salah adalah membatalkan puasa.  Seringkali pada saat-saat menjelang maghrib dan akhirnya adzan berkumandang, pada saat yang sama kita sedang sibuk mengerjakan sesuatu yang harus selesai. Pada saat itulah salah seorang dari kita; mari kita batalkan puasa kita, ayo batalkan puasanya dulu.

Padahal, kalau ungkapan itu benar-benar diniatkan untuk membatalkan puasa, maka batal benar puasa kita. Batal dalam perspektif tidak ada ganjaran pahala sama sekali terhadap puasa kita itu. Padahal, kita telah menahan lapar, haus serta hal-hal yang membatalkan puasa. Lali tiba-tiba ibadah kita batal hanya karena niat mem-"batal"-kan puasa kita.

Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, sudah sepantasnya kita mencontoh beliau. Sebagaimana yang diungkapkan dalam sebuah hadist, istilah berbuka puasa yang tepat adalah mempercepat buka puasa serta mengakhirkan sahur dan bukan membatalkan puasa. Mempercepat dalam artian segera berbuka puasa jika sudah waktunya berbuka, bukan menyegerakan untuk berbuka belum pada waktunya berbuka.

Demikian, semoga bermanfaat sedikit dari goresan tulisan-ku dan ini merupakan harapan kita untuk perbaikkan di Indonesia yang lebih baik. Semoga tidak ada yang salah kaprah lagi tentang kosakata yang menghadirkan ketidaknyamanan dalam keseharian kita. Apalagi jika berkaitan dengan ibadah.

Wallahu'alam Bishoab



Wassalamu'alaykum Warahmatullah Wabarakatuh